Thursday, 15 May 2014

Translating 1

Lagi belajar mentranslate, jadi masih acak adut mungkin. Cerita di bawah ini adalah sebuah cerita lucu yang saya ambil dari buku pemberian Kakak saya. Percobaan pertama nih, gimana komennya?


A case of cattle
Sebuah kasus ternak

A long time ago people in Nasreddin’s village always considered their neighbor Abdullah as a very wise man. So every time they had a problem or a dispute they always went to see Abdullah to ask for his advice on what they should do. Abdullah had a big book of law. Like other people in his village he also had some goats and a vegetable garden. Like other people too, he loved his goats and vegetable garden.
Dahulu kala orang-orang di Desanya Nasreddin selalu menganggap tetangga mereka Abdullah sebagai orang yang sangat bijak. Setiap kali mereka mempunyai masalah atau perselisihan, mereka selalu mendatangi Abdullah untuk meminta saran apa yang harus mereka lakukan. Abdullah memiliki “buku besar tentang hukum”. Seperti orang-orang didesanya, dia juga mempunyai sejumlah kambing dan kebun sayuran. Dan seperti orang lain juga, dia menyayangi kambing-kambingnya serta kebun sayurannya.

One morning a young Nasreddin rushed to his house and complained.
Suatu pagi Nasreddin muda terburu-buru menuju rumah Abdullah dan mengeluh.

“Abdullah, it seems that one of your goats has entered into our vegetable garden,” Nasreddin told him.
“Abdullah, kelihatannya salah satu kambingmu memasuki kebun sayuran kami,” Lapor Nasreddin

“Really?” Abdullah replied in disbelief.
“Benarkah?” Abdullah menjawabnya dengan sangsi.

“Yes and it has created a lot of damage. It means we cannot have our crop this month. We want to know what the big book of law says about that,” Nasreddin explained.
“Ya dan mereka membuat banyak kerusakan. Artinya kita gagal panen bulan ini. Kami ingin tahu apa yang ‘buku besar tentang hukum’ katakan tentang itu,” Jelas Nasreddin.

“An animal doesn’t have mind. So it doesn’t have any reasons,” Abdullah dismissed.
“Seekor hewan tidak memiliki akal. Jadi tidak ada alasan untuk itu,” Tolak Abdullah.

“The owner cannot be held responsible for his animal’s behavior. No penalty is required. Is that clear?” Abdullah explained further.
“Si Pemilik tidak bertanggung jawab atas kelakuan ternaknya. Tidak ada hukuman yan diperlukan. Jelas?” Abdullah menjelaskan lagi.

“Once again please. Sorry I didn’t get your last point,” said Nasreddin.
“Tolong ulangi sekali lagi. Maaf, saya tidak mengerti maksud Anda yang terakhir,” Kata Nasreddin.

“In such a case the owner cannot be held responsible.”
“Dalam kasus tersebut si Pemilik tidak memiliki tanggung jawab.”

“I see,” Nasreddin smiled meaningfully and then he said, “Oops I spoke wrongly Abdullah. I mean my cow has entered and damaged your vegetable garden,” he rectified.
“Saya mengerti,” Nasreddin tersenyum penuh arti lalu berkata, “Ups Saya salah bicara Abdullah. Maksud saya, sapiku telah memasuki dan merusakkan kebun sayuranmu,” dia meralat.

“Oh really?” Abdullah was shocked. He frowned and said “Let’s see what the law states about that,” Abdullah said. And he reached the big book and opened it quickly, but deep in his heart he knew that Nasreddin had played a trick on him as he always did as a smart guy at his age.
“Sungguh?” Abdullah terkejut. Dia mengerutkan dahi dan berkata “Mari kita lihat apa yang dikatakan hukum tentang itu,” kata Abdullah. Abdullah mengambil buku besarnya dan membukanya dengan cepat, meskipun jauh didalam hatinya dia tahu kalau Nasreddin mempermainkannya seperti yang selalu dia lakukan sebagai orang yang cerdas diusianya.

0 comments:

Post a Comment