Lagi belajar mentranslate, jadi masih acak adut mungkin. Cerita di bawah ini adalah sebuah cerita lucu yang saya ambil dari buku pemberian Kakak saya. Percobaan pertama nih, gimana komennya?
A case of cattle
Sebuah kasus ternak
A long time
ago people in Nasreddin’s village always considered their neighbor Abdullah as
a very wise man. So every time they had a problem or a dispute they always went
to see Abdullah to ask for his advice on what they should do. Abdullah had a
big book of law. Like other people in his village he also had some goats and a
vegetable garden. Like other people too, he loved his goats and vegetable
garden.
Dahulu kala
orang-orang di Desanya Nasreddin selalu menganggap tetangga mereka Abdullah
sebagai orang yang sangat bijak. Setiap kali mereka mempunyai masalah atau
perselisihan, mereka selalu mendatangi Abdullah untuk meminta saran apa yang
harus mereka lakukan. Abdullah memiliki “buku besar tentang hukum”. Seperti orang-orang
didesanya, dia juga mempunyai sejumlah kambing dan kebun sayuran. Dan seperti
orang lain juga, dia menyayangi kambing-kambingnya serta kebun sayurannya.
One morning a
young Nasreddin rushed to his house and complained.
Suatu pagi
Nasreddin muda terburu-buru menuju rumah Abdullah dan mengeluh.
“Abdullah, it
seems that one of your goats has entered into our vegetable garden,” Nasreddin
told him.
“Abdullah,
kelihatannya salah satu kambingmu memasuki kebun sayuran kami,” Lapor Nasreddin
“Really?”
Abdullah replied in disbelief.
“Benarkah?”
Abdullah menjawabnya dengan sangsi.
“Yes and it
has created a lot of damage. It means we cannot have our crop this month. We
want to know what the big book of law says about that,” Nasreddin explained.
“Ya dan mereka
membuat banyak kerusakan. Artinya kita gagal panen bulan ini. Kami ingin tahu
apa yang ‘buku besar tentang hukum’ katakan tentang itu,” Jelas Nasreddin.
“An animal
doesn’t have mind. So it doesn’t have any reasons,” Abdullah dismissed.
“Seekor hewan
tidak memiliki akal. Jadi tidak ada alasan untuk itu,” Tolak Abdullah.
“The owner
cannot be held responsible for his animal’s behavior. No penalty is required.
Is that clear?” Abdullah explained further.
“Si Pemilik
tidak bertanggung jawab atas kelakuan ternaknya. Tidak ada hukuman yan
diperlukan. Jelas?” Abdullah menjelaskan lagi.
“Once again
please. Sorry I didn’t get your last point,” said Nasreddin.
“Tolong ulangi
sekali lagi. Maaf, saya tidak mengerti maksud Anda yang terakhir,” Kata
Nasreddin.
“In such a
case the owner cannot be held responsible.”
“Dalam kasus
tersebut si Pemilik tidak memiliki tanggung jawab.”
“I see,”
Nasreddin smiled meaningfully and then he said, “Oops I spoke wrongly Abdullah.
I mean my cow has entered and damaged your vegetable garden,” he rectified.
“Saya
mengerti,” Nasreddin tersenyum penuh arti lalu berkata, “Ups Saya salah bicara
Abdullah. Maksud saya, sapiku telah memasuki dan merusakkan kebun sayuranmu,” dia
meralat.
“Oh really?”
Abdullah was shocked. He frowned and said “Let’s see what the law states about
that,” Abdullah said. And he reached the big book and opened it quickly, but
deep in his heart he knew that Nasreddin had played a trick on him as he always
did as a smart guy at his age.
“Sungguh?”
Abdullah terkejut. Dia mengerutkan dahi dan berkata “Mari kita lihat apa yang
dikatakan hukum tentang itu,” kata Abdullah. Abdullah mengambil buku besarnya
dan membukanya dengan cepat, meskipun jauh didalam hatinya dia tahu kalau
Nasreddin mempermainkannya seperti yang selalu dia lakukan sebagai orang yang
cerdas diusianya.





0 comments:
Post a Comment